Social Icons

Pages

Jumat, 30 Maret 2012

PUISI

Orang sudah tidak asing lagi dengan yang namanya ‘Puisi’. Puisi bukan hal baru atau yang jarang untuk kita temui. Segala tindak tanduk kita terkadang saling berhubungan dengan sebuah puisi. Dan mari kita berbincang mengenai puisi.
Puisi, setiap orang sekarang sudah dapat menciptakan sebuah puisi. Jika orang yang suka dalam dunia kepuisian masih mengatakan agak berat menciptakan sebuah puisi, namun orang, teman dan bahkan diri kita sendiri hal itu adalah mudah. Tahu kenapa? Dari hasil pengamatan terhadap orang lain dan diri sendiri, kebanyakan dari kita semua hanya terpaku pada keindahan literlek saja. Kita – pemula – jika menciptakan sebuah puisi atau kasarannya membuat sebuah puisi terkesan Alay. Dan hal itu saya sadari sendiri, bagaimana mencoloknya bahasa yang saya gunakan ketika membuat puisi, berbeda dengan sastrawan dan budayawan ketika mencipta sebuah puisi, bahasa mereka memang sepenuhnya sastra namun tidak terkesan alay. Mengapa demikian?
Pertanyaan itulah yang tidak bisa kujawab, aku hanya bisa menerka dan menganalisa saja bahwa karena kita menghilangkan poin penting dari sebuah puisi. Apakah itu? Yaitu sebuah ‘Makna’. Dalam setiap puisi tentunya yang patut diperhatikan adalah makna yang terkandung di dalamnya. Hal seperti inilah yang sering dilupakan oleh pencipta puisi kacangan seperti diriku. Kita yang pemula ini terlalu mementingkan keindahan bahasa, padahal bahasa yang kita gunakan justru membuat karya kita menjadi hal yang menjijikkan.
Itulah kenapa aku sebut alay (berlebihan), niat awal untuk menarik minat pembaca. Namun pada kenyataannya malah semakin membuat mereka menjauh dan mentertawakan karangan kita. Sebenarnya ini bukanlah merupakan sebuah pelajaran baru dalam dunia seni, dulu ketika aku masih aktif dalam dunia ke-teater-an, sering kali kujumpai guru teaterku mengajarkan pada kita untuk memerhatikan sebuah makna yang terkandung dalam sebuah karya, seperti membuat sebuah naskah drama atau mementaskan sesuatu di hadapan publik, hal yang wajib disisipkan adalah makna. Dan makna yang akan kita sisipkan tergantung pada kondisi dan situasi tempat yang kita hadapi, misal ketika sedang PEMILU, dalam sebuah pentas teater yang dulu kumainkan dan kuperani, selalu mengandung kritik terhadap penguasa. Jadi apa yang kita hasilkan bukanlah sebuah hiburan semata, tetapi sebuah hiburan yang sarat makna. Dan yang seperti inilah yang lebih berbobot dari pada karya karya yang tidak memntingkan nilai makna, meski terkadang karya yang berbobot itu terkesan membosankan. Namun prinsip seperti itu yang hingga saat ini masih eksis dalam dunia seni.
Pada akhirnya, aku hanya bisa berharap semoga besok kalau aku mau membuat sebuah puisi, puisiku benar-benar bermakna dan berbobot. Tidak seperti puisi buatanku yang lain, yang malah menjijikkan kala aku membacanya sendiri. Di penghujung tulisan aku ingin mengajak kepada semua penulis pemula agar tetap semangat, belajar dan berkarya. Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar