Social Icons

Pages

Sabtu, 10 September 2011

Warna Lebaran


Tau gak apa corak lebaran kali ini? semua pasti sudah menerka apa coraknya, yakni ‘berbeda’. Yup..lebaran kita kali ini mengalami perbedaan dalam perayaan dan penetapan 1 syawalnya. Hal ini sudah lumrah dan dapat dimaklumi dalam dunia per-Falak-an. Perbedaan dalam menentukan awal bulan, khususnya bulan syawal terletak pada rukyat hilal.
Menurut Murtadlo Lajnah Falakiah Malang, terjadinya perbedaan tersebut dikarenakan antar perukyat satu dengan yang lainnya adalah ufuk. Maksudnya adalah setiap tempat tidak menutup kemungkinan hilal akan tertutp oleh ufuk. Contoh missal adalah ketika di Gresik Jawa timur Melihat Hilal pada pukul 17.22 WIB dengan ketinggian 2 Derajat, belum tentu yang di Jepara akan melaihat hilal yang sama. Bisa saja mereka tidak melihat dikarenakan hilal tersebut tertutup oleh ufuk. Bisa dipahami penjelasannya?
Seperti itulah masalah yang selalu dihadapi oleh perukyat. Untuk mengantisipasi rasa ragu dalam penentuan awal bulan syawal ada sebagian mengistikmalkan puasa romadhon menjadi 30 hari. Hal ini sering kita jumpai dalam putusan kementrian agama RI ketika menghadapi perbedaan awal syawal seperti pada lebaran kemarin. Memang istikmal merupakan jalan terakhir mengatasi keragu-raguan dalam penentapan 1 syawal ketika Lajnah falakiah yang tersebar di Nusantara tidak melihatnya. Namun akan berakibat fatal (Berdosa) ketika istikmal itu keliru, dalam artian jika sebagian perukyat sudah melihat hilal itu sudah muncul di atas 1 derajat terus pemerintah malah memilih untuk istikmal dikarenakan yang melihat hilal hanya sedikit dibandingkan dengan yang tidak melihatnya. Maka hal ini akan berefek pada dosa karena menyuruh rakyat puasa dikala lebaran sudah menjelma.
Ridwan Saidi mengatakan dalam sebuah stasiun televisi terkemuka di Negeri ini: “Saya berlebaran hari selasa bukan karena saya orang Muhammadiyah. tapi saya mengikuti orang yang melihat hilal. pertimbangannya adalah jika yang 29 hari itu keliru maka bagi yang mengambil puasa 29 hari punya hutang 1 kali puasa. Namun jika yang mengambil istikmal karena mengikuti pemerintah, terus ternyata keliru. Maka berakibat berdosanya pemerintah karena memerintah rakyat untuk berpuasa ketika lebaran”
Pernyataan dan apa yang dianut ridwan saidi tentunya tidak hanya sebatas taqlid/fanatik terhadap sesuatupun. Ia mengikuti lebaran yang 29 hari bukan karena dia orang Muhammadiyah. Dia mengambil keputusan karena kiyai kampungnya yang merupakan orang yang mahir dalam ilmu falak berkata bahwa ramadhan tahun ini 29 hari dan 1 syawal jatuh pada hari selasa.
Melihat pendapat ridwan yang merupakan budayawan tersebut masuk akal juga. Lebih baik punya hutang satu hari puasa disbanding dengan berpuasa dikala lebaran. Meski dia bukan tokoh agama, namun pendapat dia mestinya perlu kita resapi. Apalagi terkait masalah pemerintah, dalam perbincangannya yang lain, ia menyinggung bahwa seharusnya pemerintah tidak boleh menginterfensi agama. Sebagaimana kita ketahui dalam tiap tahunnya. Karena agama bukan urusan pemerintah, melainkan urusan kita masing-masing.
Terkait masalah perbedaan penentuan 1 syawal, bagi orang yang mengambil istikmal mengatakan “kita mengikuti pemerintah karena ‘Athi’u Allah wa ‘athi’u ar-rasul wa ulil amri mingkum’.” Landasan seperti ini juga tidak sepenuhnya kita salahkan, karena urusan salah dan benar adalah kuasa tuhan. Cuma landasan seperti ini perlu diklarifikasi. Pemerintah yang bagaimana yang patut kita ikuti dan kita harus tunduk? Jika pemerintahnya mencampur adukkan antara haq dan bathil apakah pemerintah model seperti ini patut untuk kita ikuti? Jawabannya adalah tidak.
Sama halnya ketika Kementrian Agama menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Rabu, sedangkan sebagian rakyat di Jakarta Timur dan Jepara sudah jelas melihat hilal pada mala tgl 30 Agustus. Terus pemerintah lebih memilih mengistikmalkan puasa menjadi 30 hari merupakan tindakan yang bathil karena lebih mengutamakan hukum demokrasi dibandingkan hukum Islam yang mengatakan ‘jika hilal terlihat maka berbukalah’. Hal seperti inilah yang saya maksud perlu adanya klarifikasi terkait masalah di atas.
Sekali lagi, saya menulis tentang ini bukan dilandaskan pada Muhammadiyah atau bukan. Tapi karena dilandaskan pada apa yang saya ketahui lewat mata kuliah Ilmu Falak. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mengutip kembali dari perkataan Ridwan Saidi ‘Yang puasa hari rabu tergolong Negara yang terpuruk, seperti Somalia dan sebagainya, sedangkan negara yang maju mengambil lebaran hari selasa seperti Mesir dan Arab Saudi
Inilah secuil dari apa yang kualami ketika malam lebaran. Memang perbedaan merupakan rahmat dan sebagai pewarna dalam Islam itu sendiri. Tapi jika pewarna ini dirusak dengan kepentingan politik dan peperangan dalam tubuh Islam, maka hal ini akan berakibat fatal. Semoga pemerintah mau mendengarkan apa yang sudah diutarakan olek Ridwan Saidi dan kembali menganalisa kesalahan diri agar seterusnya hal ini dapat di atasi dan diserempakkan ketika menentukan awal syawal. Terima kasih

Wallahu A’lam Bis Showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar